BAB
I
1.1
Latar Belakang
Sejarah
penemuan
Tulisan-tulisan sistem peredaran darah pertama ditemukan di Papyrus Ebers
yang berasal dari abad 16 SM, suatu papirus mesir kuno yang mengandung
lebih dari 700 resep dan obat medis, baik fisik maupun spiritual. Dalam papirus , itu
mengakui sambungan dari jantung ke arteri. Dokter Mesir itu berpikir udara masuk melalui mulut
dan masuk ke paru-paru dan jantung. Dari hati, udara perjalanan ke setiap
anggota melalui arteri. Meskipun ini konsep sistem peredaran darah yang sangat
cacat, itu merupakan salah satu rekening awal pemikiran ilmiah.
Pada abad
ke-6 SM, pengetahuan tentang sirkulasi cairan vital ke seluruh tubuh dikenal
dengan Ayurvedic di temukan
oleh dokter Sushruta di India kuno . Lalu katup jantung ditemukan oleh seorang dokter dari Hippocratean sekolah
sekitar abad ke-4 SM. Namun fungsi mereka tidak dipahami dengan baik maka.
Karena pembuluh darah arteri setelah kematian terlihat kosong, anatomi kuno menganggap mereka dipenuhi dengan udara
dan bahwa mereka untuk transportasi udara. Dokter Yunani , Herophilus , vena
dibedakan dari arteri tetapi berpikir bahwa denyut adalah milik
arteri sendiri. Anatomi yunani, Erasistratus mengamati
bahwa arteri yang dipotong selama berdarah hidup. Dia berasal fakta fenomena
bahwa udara yang keluar dari arteri diganti dengan darah yang dimasukkan oleh
pembuluh yang sangat kecil antara vena dan arteri. Dengan demikian ia tampaknya
mendalilkan kapiler tetapi dengan aliran terbalik darah.
Pada abad
ke-2 Masehi, dokter Galen tahu bahwa
pembuluh darah membawa darah dan vena diidentifikasi (merah gelap) dan arteri
(lebih terang dan lebih tipis) dan
masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda dan terpisah. Galen
percaya bahwa darah arteri diciptakan oleh darah vena yang lewat dari ventrikel
kiri ke kanan dengan melewati 'pori-pori' di septum interventrikular, udara
lulus dari paru-paru melalui arteri paru-paru ke sisi kiri jantung. Sebagai
darah arteri diciptakan uap 'jelaga' diciptakan dan diteruskan ke paru-paru
juga melalui arteri pulmonalis yang akan dihembuskan.
Pada tahun 1025, di terbitkan The Canon of Medicine oleh dokter Persia ,Ibnu Sina menyempurnakan
teori Galen yang keliru tentang denyut. Ia berpendapat bahwa setiap denyut nadi terdiri dari dua gerakan dan dua
jeda. Pada 1242, para dokter Arab , Ibn al-Nafis , menjadi
orang pertama yang secara akurat menggambarkan proses sirkulasi paru-paru , yang ia kadang-kadang dianggap sebagai bapak fisiologi peredaran darah .
Michael Servetus adalah orang Eropa pertama yang menggambarkan fungsi
sirkulasi paru-paru, meskipun prestasinya tidak diakui secara luas pada saat
itu, karena beberapa alasan. Ia pertama kali digambarkan dalam "Naskah
Paris"(sekitar tahun 1546),
namun pekerjaan ini tidak pernah diterbitkan. Lalu ada William Harvey , seorang murid dari Hieronymus Fabricius (yang sebelumnya menggambarkan katup pembuluh darah
tanpa mengakui fungsi mereka), melakukan urutan eksperimen pada tahun 1628 yang
menunjukkan bahwa ada hubungan langsung antara vena dan arteri di dalam seluruh sistem
tubuh tubuh, dan
bukan hanya paru-paru paling penting,. ia berpendapat bahwa denyut jantung
menghasilkan sirkulasi darah terus menerus melalui koneksi menit pada
ekstremitas tubuh. Ini adalah lompatan konseptual yang sangat berbeda dari
perbaikan Ibn al-Nafis 'dari anatomi dan bloodflow di jantung dan paru-paru.
Karya ini, dengan eksposisi yang dasarnya benar, perlahan-lahan meyakinkan
dunia medis. Namun, Harvey tidak dapat mengidentifikasi sistem kapiler
menghubungkan arteri dan vena, ini kemudian ditemukan oleh Marcello Malpighi tahun 1661. Pada tahun 1956, André Frédéric Cournand , Werner Forssmann dan Dickinson W. Richards dianugerahi Hadiah Nobel dalam Kedokteran
untuk penemuan mereka mengenai kateterisasi jantung dan perubahan patologis dalam sistem peredaran darah.
1.2
Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
1) Memenuhi tugas mata kuliah Biopsikologi
2) Memberikan informasi kepada para pembaca
tentang Biopsikologi terutama tentang Daya Tahan dan Daya Tangkap pada system
peredaran darah.
BAB
II
Mekanisme
Transportasi Sederhana
Mekanisme
Transporasi pada Sel
Membran sel berfungsi
membatasi sel dan lingkungan sekitar. Namun demikian, tidak berarti sel menjadi
satu sistem tertutup yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Tidak ada
organisme yang mampu hidup terpisah dari lingkungan sekitarnya. Begitu pula
halnya dengan sel. Sel memperoleh bahan-bahan yang dibutuhkan untuk berbagai
proses metabolismenya dari lingkungan di luar sel. Beberapa
mekanisme sel dalam memperoleh bahan-bahan yang dibutuhkan, antara lain difusi
, osmosis , transpor aktif , endositosis, dan eksositosis.
1. Difusi
Difusi merupakan proses perpindahan
suatu zat yang terjadi secara spontan ketika ada perbedaan tekanan difusi, dari
tekanan yang tinggi ke arah tekanan yang lebih rendah. Tekanan difusi
berkorelasi positif dengan konsentrasi zat tersebut. Artinya, semakin tinggi
konsentrasinya, semakin tinggi pula tekanan difusi zat tersebut.
Faktor yang
memengaruhi kecepatan difusi contohnya
adalah naiknya suhu dan zat yang berdifusi. Dengan
naiknya suhu, energi kinetik yang dimiliki molekul suatu zat menjadi lebih
tinggi sehingga pergerakan molekul zat menjadi lebih cepat. Zat yang
paling mudah berdifusi adalah gas sedangkan cairan
relatif lebih lambat berdifusi dibandingkan dengan gas.
Tidak
seluruh molekul dapat berdifusi masuk ke dalam sel. Contohnya adalah olekul berukuran sedang, seperti molekul gula dan
protein, tidak dapat berdifusi melewati membran sel. Pertukaran oksigen dan
CO2 pada proses respirasi hewan merupakan salah satu contoh difusi. Pada
prinsipnya, difusi membran sel bersifat pasif. Membran sel tidak mengeluarkan
energi untuk memindahkan molekul ke luar maupun ke dalam sel.
2. Osmosis
Osmosis adalah proses perpindahan pelarut melewati sebuah membran
semipermeabel. Contohnya adalah proses
difusi air sebagai pelarut, melewati sebuah membran semipermeabel. Masuknya air
ini dapat menyebabkan tekanan air yang disebut tekanan osmotic. Namun,
membran sel memiliki kemampuan yang terbatas untuk mengembang sehingga sel
tersebut tidak pecah. Pada sel darah merah, peristiwa ini disebut hemolisis.
Terdapat
tiga sifat larutan yang dapat menentukan pergerakan air pada osmosis, yaitu:
1. Hipertonik Suatu larutan dikatakan hipertonik jika memiliki konsentrasi zat terlarut lebih tinggi
dibandingkan larutan pembandingnya.,
2. Hipotonik Suatu
larutan dikatakan hipotonik jika larutan pembanding memiliki konsentrasi zat
terlarut lebih kecil.,
3. Isotonik larutan isotonik memiliki konsentrasi zat
terlarut yang sama dengan larutan pembanding.
3. Transpor
Aktif
Transpor
aktif merupakan mekanisme pemindahan molekul atau zat tertentu melalui membran
sel, berlawanan arah dengan gradien konsentrasi. Oleh karena itu, harus ada
energi tambahan dari sel yang digunakan untuk membantu perpindahan tersebut berbeda dengan osmosis dan difusi yang tidak membutuhkan energi.
Energi
tambahan yang digunakan dalam proses transpor aktif berasal dari ATP yang
dihasilkan oleh mitokondria melalui proses respirasi. Zat yang
dipindahkan dengan cara transpor aktif pada umumnya adalah zat yang memiliki
ukuran molekul cukup besar sehingga tidak mampu melewati membran sel. Sel
mengimbangi tekanan osmosis lingkungannya dengan cara menyerap atau
mengeluarkan molekul-molekul tertentu. Dengan demikian, terjadi aliran
air masuk atau keluar sel. Kemampuan mengimbangi tekanan osmosis dengan
transpor aktif menjadi sangat penting untuk bertahan hidup.Pompa natrium kalium
merupakan contoh transpor aktif yang banyak ditemukan pada membran sel.
4.
Endositosis
Endositosis
merupakan mekanisme pemindahan benda dari luar ke dalam sel. Istilah
endositosis berasal dari bahasa Yunani, endo artinya ke dalam dan
cytos artinya sel. Membran sel membentuk pelipatan ke dalam (invaginasi) dan
“memakan” benda yang akan dipindahkan ke dalam sel. Di dalam
sel, benda tersebut dilapisi oleh sebagian membran sel yang terlepas membentuk
selubung. Proses makan pada Amoeba adalah contoh mudah untuk menggambarkan
proses endositosis. Endositosis membran sel pada Amoeba , akan membentuk
vakuola.
Terdapat
tiga bentuk endositosis,
yaitu fagositosis, pinositosis, dan endositosis dengan bantuan reseptor.
Proses makan pada Amoeba merupakan contoh fagositosis. Pada proses fagositosis,
benda yang dimasukkan ke dalam sel berupa zat atau molekul padat. Adapun pada
pinositosis berupa zat cair.Berbeda dengan fagositosis dan pinositosis, pada
endositosis dengan bantuan reseptor hanya menerima molekul yang sangat
spesifik. Di dalam lekukan membran plasma terdapat reseptor protein yang akan
berikatan dengan protein molekul yang akan diterima sel.
5.
Eksositosis
Proses
Amoeba mengeluarkan sisa-sisa makanan melalui vakuolanya adalah satu contoh
eksositosis. Istilah eksositosis berasal dari bahasa Yunani, exo
artinya keluar dan cytos artinya sel. Jadi, eksositosis adalah
proses mengeluarkan benda dari dalam sel ke luar sel. Vakuola atau selubung
membran melingkupi sisa zat makanan yang
sudah dicerna. Kemudian, bergabung kembali dengan membran sel
dan sisa zat makanan untuk di buang keluar sel. Membran
yang menyelubungi sel tersebut akan bersatu atau berfusi dengan membran sel.
Cara ini adalah salah satu mekanisme yang digunakan sel-sel kelenjar untuk
menyekresikan hasil metabolisme. Misalnya, sel-sel kelenjar di pankreas yang
mengeluarkan enzim ke saluran pankreas yang bermuara di usus halus. Sel-sel
tersebut mengeluarkan enzim dari dalam sel menggunakan mekanisme eksositos. Pada
umumnya, eksosistosis dan endositosis digunakan untuk memindahkan benda-benda
yang berukuran besar. Kedua proses tersebut, saling menyeimbangkan luas
permukaan plasma membran sehingga volume sel tidak harus menjadi lebih kecil
dari semula.
Sistem
pencernaan makanan pada manusia dan mamalia
Ø
Sistem pencernaan manusia
Sistem pencernaan makanan pada manusia terdiri dari
beberapa organ, berturut-turut dimulai dari
1. Rongga Mulut,
2. Esofagus
3. Lambung
4. Usus Halus
5. Usus Besar
6. Rektum
7. Anus.
Rongga Mulut
1. Rongga Mulut,
2. Esofagus
3. Lambung
4. Usus Halus
5. Usus Besar
6. Rektum
7. Anus.
Rongga Mulut
Mulut merupakan saluran pertama yang dilalui makanan.
Pada rongga mulut, dilengkapi alat pencernaan dan kelenjar pencernaan untuk
membantu pencernaan makanan. Pada Mulut terdapat :
a.Gigi memiliki fungsi memotong, mengoyak dan menggiling makanan menjadi partikel yang kecil-kecil. Perhatikan gambar disamping.
b..Lidah memiliki peran mengatur letak makanan di dalam mulut serta mengecap rasa makanan.
c.Kelenjar Ludah. Ada 3 kelenjar ludah pada rongga mulut. Ketiga kelenjar ludah tersebut menghasilkan ludah setiap harinya sekitar 1 sampai 2,5 liter ludah. Kandungan ludah pada manusia adalah : air, mucus, enzim amilase, zat antibakteri, dll. Fungsi ludah adalah melumasi rongga mulut serta mencerna karbohidrat menjadi disakarida.
a.Gigi memiliki fungsi memotong, mengoyak dan menggiling makanan menjadi partikel yang kecil-kecil. Perhatikan gambar disamping.
b..Lidah memiliki peran mengatur letak makanan di dalam mulut serta mengecap rasa makanan.
c.Kelenjar Ludah. Ada 3 kelenjar ludah pada rongga mulut. Ketiga kelenjar ludah tersebut menghasilkan ludah setiap harinya sekitar 1 sampai 2,5 liter ludah. Kandungan ludah pada manusia adalah : air, mucus, enzim amilase, zat antibakteri, dll. Fungsi ludah adalah melumasi rongga mulut serta mencerna karbohidrat menjadi disakarida.
Kerongkongan
Merupakan saluran yang menghubungkan antara rongga
mulut dengan lambung. Pada ujung saluran esophagus setelah mulut terdapat
daerah yang disebut faring. Pada faring terdapat klep, yaitu epiglotis yang
mengatur makanan agar tidak masuk ke trakea (tenggorokan). Fungsi esophagus
adalah menyalurkan makanan ke lambung. Agar makanan dapat berjalan sepanjang
esophagus, terdapat gerakan peristaltik sehingga makanan dapat berjalan menuju
lambung
Lambung
Lambung adalah
kelanjutan dari keronkongan, berbentuk seperti kantung. Lambung dapat menampung
makanan 1 liter hingga mencapai 2 liter. Dinding lambung disusun oleh otot-otot
polos yang berfungsi menggerus makanan secara mekanik melalui kontraksi
otot-otot tersebut. Ada 3 jenis otot polos yang menyusun lambung, yaitu otot
memanjang, otot melingkar, dan otot menyerong.Selain pencernaan mekanik, pada
lambung terjadi pencernaan kimiawi dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan
lambung. Senyawa kimiawi yang dihasilkan lambung adalah :
- Asam HCl ,Mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin. Sebagai disinfektan, serta merangsang pengeluaran hormon sekretin dan kolesistokinin pada usus halus
- Lipase , Memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Namun lipase yang dihasilkan sangat sedikit
- Renin , Mengendapkan protein pada susu (kasein) dari air susu (ASI). Hanya dimiliki oleh bayi.
- Mukus , Melindungi dinding lambung dari kerusakan akibat asam HCl.
Hasil penggerusan makanan di lambung secara mekanik dan kimiawi akan
menjadikan makanan menjadi bubur yang disebut bubur kim.
Fungsi HCI Lambung :
1. Merangsang keluamya sekretin
2. Mengaktifkan Pepsinogen menjadi Pepsin untuk memecah protein.
3. Desinfektan
4. Merangsang keluarnya hormon Kolesistokinin yang berfungsi merangsang empdu mengeluarkan getahnya.
1. Merangsang keluamya sekretin
2. Mengaktifkan Pepsinogen menjadi Pepsin untuk memecah protein.
3. Desinfektan
4. Merangsang keluarnya hormon Kolesistokinin yang berfungsi merangsang empdu mengeluarkan getahnya.
Usus Halus
Usus halus merupakan kelanjutan dari lambung. Usus
halus memiliki panjang sekitar 6-8 meter. Usus halus terbagi menjadi 3 bagian
yaitu duodenum (± 25 cm), jejunum (± 2,5 m), serta ileum (± 3,6 m). Pada usus
halus hanya terjadi pencernaan secara kimiawi saja, dengan bantuan senyawa
kimia yang dihasilkan oleh usus halus serta senyawa kimia dari kelenjar
pankreas yang dilepaskan ke usus halus.
Senyawa yang dihasilkan oleh usus halus adalah :
Senyawa yang dihasilkan oleh usus halus adalah :
- Disakaridase Menguraikan disakarida menjadi monosakarida
- Erepsinogen Erepsin yang belum aktif yang akan diubah menjadi erepsin. Erepsin mengubah pepton menjadi asam amino.
- Hormon Sekretin Merangsang kelenjar pancreas mengeluarkan senyawa kimia yang dihasilkan ke usus halus
- Hormon CCK (Kolesistokinin) Merangsang hati untuk mengeluarkan cairan empedu ke dalam usus halus.
Selain itu, senyawa kimia yang dihasilkan kelenjar pankreas adalah :
- Bikarbonat Menetralkan suasana asam dari makanan yang berasal dari lambung
- Enterokinase Mengaktifkan erepsinogen menjadi erepsin serta mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin. Tripsin mengubah pepton menjadi asam amino.
- Amilase Mengubah amilum menjadi disakarida
- Lipase Mencerna lemak menjadi asam lemak dan gliserol
- Tripsinogen Tripsin yang belum aktif.
- Kimotripsin Mengubah peptone menjadi asam amino
- Nuklease Menguraikan nukleotida menjadi nukleosida dan gugus pospat
- Hormon Insulin Menurunkan kadar gula dalam darah sampai menjadi kadar normal
- Hormon Glukagon Menaikkan kadar gula darah sampai menjadi kadar normal
PROSES PENCERNAAN MAKANAN
Pencernaan makanan secara kimiawi pada usus halus
terjadi pada suasana basa. Prosesnya sebagai berikut :
a. Makanan yang berasal dari lambung dan bersuasana asam akan dinetralkan oleh bikarbonat dari pancreas.
a. Makanan yang berasal dari lambung dan bersuasana asam akan dinetralkan oleh bikarbonat dari pancreas.
b. Makanan yang kini berada di usus halus kemudian dicerna sesuai kandungan zatnya. Makanan dari kelompok karbohidrat akan dicerna oleh amylase pancreas menjadi disakarida. Disakarida kemudian diuraikan oleh disakaridase menjadi monosakarida, yaitu glukosa. Glukaosa hasil pencernaan kemudian diserap usus halus, dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh peredaran darah.
c. Makanan dari kelompok protein setelah dilambung dicerna menjadi pepton, maka pepton akan diuraikan oleh enzim tripsin, kimotripsin, dan erepsin menjadi asam amino. Asam amino kemudian diserap usus dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh peredaran darah.
d. Makanan
dari kelompok lemak, pertama-tama akan dilarutkan (diemulsifikasi) oleh cairan
empedu yang dihasilkan hati menjadi butiran-butiran lemak (droplet lemak).
Droplet lemak kemudian diuraikan oleh enzim lipase menjadi asam lemak dan
gliserol. Asam lemak dan gliserol kemudian diserap usus dan diedarkan menuju
jantung oleh pembuluh limfe.
Usus Besar (Kolon)
Usus-besar merupakan
usus yang memiliki diameter lebih besar dari usus halus. Memiliki panjang 1,5
meter, dan berbentuk seperti huruf U terbalik. Usus besar dibagi menjadi 3
daerah, yaitu : Kolon asenden, Kolon Transversum, dan Kolon desenden. Fungsi
kolon adalah :
a. Menyerap air selama proses pencernaan.
b. Tempat dihasilkannya vitamin K, dan vitamin H (Biotin) sebagai hasil simbiosis dengan bakteri usus, misalnya E.coli.
c. Membentuk massa feses
d. Mendorong sisa makanan hasil pencernaan (feses) keluar dari tubuh. Pengeluaran feses dari tubuh ddefekasi.
Rektum dan Anus
Rektum dan anus merupakan lubang tempat pembuangan feses dari tubuh.
Sebelum dibuang lewat anus, feses ditampung terlebih dahulu pada bagian rectum.
Apabila feses sudah siap dibuang maka otot spinkter rectum mengatur pembukaan
dan penutupan anus. Otot spinkter yang menyusun rektum ada 2, yaitu otot polos
dan otot lurik.
Ø Sistem pencernaan pada mamalia
Sistem pencernaan pada hewan mamalia pada umumnya sama
dengan manusia kecuali pada susunan dan bentuk gigi serta struktur lambung,
khususnya pada hewan pemamah biak dan hewan karnivora. Pencernaan makanan hewan
memamah biak mempunyai kekhususan. Hewan memamah biak seperti sapi, rusa, dan
kambing, lambungnya terbagi menjadi empat ruang, yaitu rumen, retikulum,
omasum, dan abomasum.
Hewan memamah biak, misalnya sapi, memiliki kekhususan
pada jenis makanannya, yaitu rumput atau daun-daunan. Rumput atau daun-daunan
direnggut dan dikunyah sekadarnya serta dicampur air ludah, lalu ditelan ke
esofagus. Dari esofagus, makanan masuk ke rumen. Di rumen terdapat simbiosis
antara hewan pemamah biak dengan bakteri dan flagellata yang dapat menghasilkan
enzim selulase.
Pada rongga mulut hewan memamah biak mempunyai molare atau
geraham yang sangat besar yang berfungsi untuk menggiling dan menggilas dinding
sel tumbuhan yang dimakannya. Rongga mulut mamalia dibentuk oleh 3 atap, yaitu
palatum durum (langit-langit keras), palatum mole (langit-langit lunak), velum
palastini (tepi). Dasar rongga mulut bersifat lunak, di dalam rongga mulut
terdapat gigi, lidah dan kelenjar ludah.
Sapi memiliki kekhususan pada jenis makanannya, yaitu
rumput atau daun-daunan. Rumput atau daun-daunan direnggut dan dikunyah
sekedarnya serta dicampur air ludah, lalu ditelan ke esofagus. Dari esofagus
makanan masuk ke rumen. Di rumen terjadi simbiosis dengan bakteri menghasilkan
enzim selulase. Terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan fermentasi
selulosa oleh enzim selulase, kemudian makanan masuk ke retikulum. Di sini
makanan dibentuk bolus, pada waktu istirahat bolus dikunyah di dalam mulut
sesudah itu dikunyah lagi lalu masuk ke retikulum, lalu ke omasum, kemudian ke
abomasum. Di abomasum ini terjadi pencernaan yang sebenarnya oleh enzim-enzim pencernaan.
Sistem
Transportasi/Peredaran Darah pada Manusia
Sistem
transportasi manusia
Transportasi
ialah proses pengedaran berbagai zat yang diperlukan ke seluruh tubuh dan
pengambilan zat-zat yang tidak diperlukan untuk dikeluarkan dari tubuh. Alat
transportasi pada manusia terutama adalah darah. Di dalam tubuh darah beredar
dengan bantuan alat peredaran darah yaitu jantung dan pembuluh darah. Selain
peredaran darah, pada manusia terdapat juga peredaran limfe (getah bening) dan
yang diedarkan melalui pembuluh limfe. Pada hewan alat transpornya adalah
cairan tubuh, dan pada hewan tingkat tinggi alat transportasinya adalah darah
dan bagian-bagiannya. Alat peredaran darah adalah jantung dan pembuluh darah.
1.
Darah
Bagian-bagian darah :
Sel-sel darah (bagian yg padat)
- Eritrosit (sel darah merah)
- Leukosit (sel darah putih)
- Trombosit (keping darah)
Plasma Darah (bagian yg cair)
- Serum
- Fibrinogen
Fungsi Darah
Darah mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Mengedarkan sari makanan ke seluruh tubuh yang dilakukan oleh plasma darah
2. Mengangkut sisa oksidasi dari sel tubuh untuk dikeluarkan dari tubuh yang dilakukan oleh plasma darah, karbon dioksida dikeluarkan melalui paru-paru, urea dikeluarkan melalui ginjal
3. Mengedarkan hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar buntu (endokrin) yang dilakukan oleh plasma darah.
4. Mengangkut oksigen ke seluruh tubuh yang dilakukan oleh sel-sel darah merah
5. Membunuh kuman yang masuk ke dalam tubuh yang dilakukan oleh sel darah putih
6. Menutup luka yang dilakuakn oleh keping-keping darah
7. Menjaga kestabilan suhu tubuh.
2.
Jantung
Jantung
manusia dan hewan mamalia terbagi menjadi 4 ruangan yaitu: bilik kanan, bilik
kiri, serambi kanan, serambi kiri. Pada dasarnya sistem transportasi pada
manusia dan hewan adalah sama.
3.
Pembuluh Darah
Ada 3 macam
pembuluh darah yaitu: arteri, vena, dan kapiler (yang merupakan pembuluh darah
halus)
Pembuluh Nadi
- Tempat Agak ke dalam
- Dinding Pembuluh Tebal, kuat, dan elastis
- Aliran darah Berasal dari jantung
- Denyut terasa
- Katup Hanya disatu tempat dekat jantung
- Bila ada luka Darah memancar keluar
Pembuluh Vena
- Dinding Pembuluh Tipis, tidak elastis
- Dekat dengan permukaan tubuh (tipis kebiru-biruan)
- Aliran darah Menuju jantung
- Denyut tidak terasa
- Katup Disepanjang pembuluh
- Bila ada luka Darah Tidak memancar
1. Sistem peredaran darah tertutup dan peredaran darah ganda
Dalam
keadaan normal darah ada didalam pembuluh darah, ujung arteri bersambung dengan
kapiler darah dan kapiler darah bertemu dengan vena terkecil (venula) sehingga
darah tetap mengalir dalam pembuluh darah walaupun terjadi pertukaran zat, hal ini
disebut sistem peredaran darah tertutup.
Peredaran
darah ganda pada manusia, terdiri peredaran darah kecil (jantung –paru-paru –
kembali ke jantung) dan peredaran darah besar (jantung – seluruh tubuh dan
kembali ke jantung). Peredaran ini melewati jantung sebanyak 2 kali.
4.
Getah Bening
Disamping
darah sebagai alat transpor, juga terdapat cairan getah bening. Terbentuknya
cairan ini karena darah keluar melalui dinding kapiler dan melalui ruang
antarsel kemudian masuk ke pembuluh halus yang dinamakan pembuluh getah bening
(limfe)
BAB III
Penutup
Kesimpulan
Mekanisme transportasi sederhana pada manusia terdiri dari lima mekanisme
yang berbeda yaitu difusi , osmosis , transpor aktif ,
endositosis, dan eksositosis.
Manusia mencerna makanan melalui 7 organ yaitu rongga mulut, esofagus atau kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum, dan anus. Dimana proses pencernaan
dimulai dari rongga mulut lalu masuk ke keronggkongan, diproses di lambung,
usus besar dan usus kecil, rektum dan terakir keluar melalui anus sebagai
limbah bahan makanan yang tidak ter pakai.
Pada mamalia proses pencernaan tidak jauh berbeda dengan manusia. Perbedaannya hanyalah pada lambungnya yang terbagi menjadi 4 ruangan yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasums.
Pada mamalia proses pencernaan tidak jauh berbeda dengan manusia. Perbedaannya hanyalah pada lambungnya yang terbagi menjadi 4 ruangan yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasums.
Perederan manusia berlangsung
dengan darah sebagai alat transportasi zat-zat di dalam tubuh. Darah
beredar dengan bantuan alat peredaran darah yaitu jantung dan pembuluh darah.
Selain peredaran darah, pada manusia terdapat juga peredaran limfe (getah bening)
dan yang diedarkan melalui pembuluh limfe.